Olahraga Yang Cocok Dilakukan Penderita Jantung Koroner

Olahraga Yang Cocok Dilakukan Penderita Jantung Koroner – sebelum kami membahas mengenai jenis olahraga yang cocok untuk penderita jantung koroner, akan lebih baik jika Anda ketahui terlebih dahulu mengenai manfaat-manfaat olahraga bagi penderita jantung koroner. Dengan melakukan kolaborasi olahraga rutin dan pengobatan secara alami, maka jantung koroner dapat diminimalisir. Berikut adalah beberapa manfaat olahraga untuk penderita jantung koroner:

  • Menurunkan angka kematian dan serangan jantung lanjutan.
  • Merangsang pembentukan pintasan-pintasan pembuluh darah ekstra dari cabang-cabang yang masih sehat lewat proses angiogenesis. Walaupun pembuluh darah baru ini tidak sebaik aslinya, setidaknya dapat membantu memberikan sedikit nutrisi dan biasanya keluhan angina (nyeri dada khas jantung) juga akan berkurang.
  • Mengurangi proses peradangan yang menjadi penyebab utama kerusakan lapisan pelindung pembuluh koroner (endotel) sehingga kerusakan jantung bisa dihentikan.
  • Menghambat penumpukan plak aterosklerosis dalam pembuluh koroner, bahkan dalam derajat tertentu dikatakan dapat mengikis plak tersebut.

 

Program olahraga untuk penderita jantung koroner

Program ini harus dilakukan sesuai dengan kondisi fisik masing-masing pasien. Karena itu, sebaiknya dilakukan uji latih (biasanya berupa treadmill test) di poliklinik jantung terdekat terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat risiko dan kapasitas fungsional awal pasien. Dengan cara ini maka intensitas pemberian dan tipe latihan terbaik dapat disesuaikan.

 

Untuk melakukan latihan fisik, biasanya digunakan metode-metode tertentu sebagai prinsip pemberian latihan. Kami mengenal metode latihan yang disimbolkan dengan singkatan -F-I-I-T-T. Berikut ini adalah penjabarannya:

 

- F : Frequency

Frekuensi latihan yang disarankan adalah minimal 3-5 x /minggu untuk mencapai perbaikan kapasitas fungsional yang maksimal.

 

- I : Intensity

Menentukan intensitas dari latihan. Biasanya hal ini dilakukan berdasarkan denyut nadi maksimal pasien (HR max). HR max menurut usia didapatkan dengan rumus (220-usia saat ini). Misal usia pasien 30 tahun maka HR max adalah 190x/menit. Periksalah nadi pergelangan Anda saat latihan untuk mengetahui apakah target denyut nadi Anda sudah tercapai untuk intensitas tertentu. Cara yang praktis adalah menghitung jumlah denyutan dalam 10 detik, kemudian dikalikan dengan 6, akan didapatkan kisaran denyut nadi latihan per menit.

 

-  I : Increment

Untuk menaikkan ke level latihan yang lebih tinggi, Anda harus memperhatikan perkembangan pasien. Program latihan harus dimulai dari intensitas ringan dahulu selama periode 4-6 minggu barulah ditingkatkan ke intensitas sedang. Periode ini disebut periode latihan yang sebenarnya atau periode pengkondisian. Selama 4-5 bulan berikutnya pada level latihan perlahan-lahan dapat ditingkatkan hingga batas atas intensitas sedang. Bila sudah mencapai tahap ini, intensitas dapat dipertahankan untuk seterusnya sebagai bagian dari hidup sehari-hari.

 

-  T : Type

Model atau tipe latihan harus melibatkan sebagian besar otot dan bersifat aerobik, seperti berjalan, jogging, bersepeda, mengayuh, naik tangga dan aktivitas ketahanan (endurance) lainnya. Model latihan yang dipilih haruslah menyenangkan untuk individu dan cukup sederhana agar pasien lebih bersemangat.

 

-  T : Time

Durasi yang direkomendasikan untuk tiap sesi latihan adalah 30-50 menit yang terdiri atas 3 fase :

 

  • Fase Warm up selama 5-10 menit terdiri atas peregangan, dan aktivitas aerobik bertahap untuk meningkatkan nadi hingga target yang ditentukan. Peningkatan bertahap ini bertujuan untuk menekan risiko komplikasi.
  • Fase Training/conditioning minimal 20 menit dan idealnya 30-45 menit aktivitas aerobik berkesinambungan
  • Fase Cool down selama 5-10 menit, melibatkan latihan intensitas rendah dan merupakan pemulihan dari fase conditioning. Bila tidak dilakukan cooling down, darah yang kembali ke jantung berkurang secara mendadak sementara kebutuhan konsumsi oksigen jantung masih tinggi sehingga dapat terjadi konsekuensi seperti hipotensi, angina dan aritmia.

 

Jika Anda membutuhkan petunjuk visual untuk melakukan olahraga untuk penderita jantung koroner, maka video dari Yayasan Jantung Indonesia ini sangat cocok untuk Anda. Silakan klik di masing-masing link di bawah ini untuk menonton. Semoga artikel tentang olah raga yang cocok dilakukan penderita jantung koroner ini bermanfaat.